Pagi ini saya terbangun dengan satu wacana yang terbersit lugas:
Apa peranan mahasiwa sesungguhnya dalam dunia pertambangan?
Saat ini saya sendiri berstatus sebagai seorang mahasiswi tingkat 4 di sebuah lembaga pendidikan yang ada di kota bandung. Meskipun sudah mulai menginjak tahap yang disebut “tingkat akhir” di jenjang pendidikan S1, sampai saat ini saya juga belum bisa menjawab secara gamblang pertanyaan yang saya urarakan sendiri di atas.
Selama ini sebagai mahasiswa yang terlintas di pikiran saya hanya bagaimana caranya bisa lulus setiap mata kuliah dengan nilai yang bisa dibilang cukup lah, biar nanti gampang cari kerja, punya penghasilan sendiri, hidup tenang. Sesederhana itu.
Sampai akhirnya saya mulai “turun” langsung ke lapangan. Meski baru diawali dengan kerja praktek yang lamanya juga hanya sekitar 1 bulan, tapi mata saya mulai sedikit terbuka. Walau tadinya sempat agak kecewa dengan manajemen perusahaan yang tidak menempatkan saya di mess sehingga saya harus tinggal di rumah warga karena satu dan lain hal, namun akhirnya saya bisa sangat mensyukuri kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali ini: tinggal di pemukiman warga sekitar tambang.
Kebetulan daerah tempat saya melakukan kerja praktek bukanlah tambang yang terlalu besar dengan teknologi yang sangat terpadu, walaupun mungkin tidak tepat juga jika disebut tambang kecil, yah.. menengah lah.
Produksi tambang di tempat ini juga diperkirakan hanya sekitar 3-4 tahun lagi. Namun bila melihat keadaan penduduk disana, saya menjadi sangat miris. Tidak terbayang bagaimana kehidupan masyarakat disana tanpa kegiatan pertambangan. Pembangunan sarana prasarana pun rasanya masih jauh dari cukup, apalagi kalau nanti tambang sudah benar-benar berhenti beroperasi disana. Apalagi setelah berbincang-bincang dengan beberapa karyawan disana, sebagian besar dari mereka hanya bisa berkata: “ya mau bagaimana lagi, paling nanti kita pindah kerja”. Ya, betul. Bagi para karyawan “eksekutif” di perusahaan tersebut mungkin penutupan suatu areal pertambangan artinya hanya sebatas masa kerja yang mesti berakhir di tempat tersebut. Namun tidak demikian dengan penduduk lokal yang setelah penutupan tambang tetap harus berada di tempat tersebut dengan suatu perubahan yang signifikan: tanpa adanya operasi tambang, mereka harus hidup dari apa?
Saat ini saya juga belum bisa memberikan suatu wacana yang benar-benar real bagi dunia pertambangan. Jadi untuk saat ini yang bisa saya lakukan mungkin hanyalah: belajar sebaik mungkin untuk dunia pertambangan yang benar-benar lebih baik, tanpa meninggalkan keidealismean saya saat sudah dapat menapakkan jejak di dunia pertambangan yang sebenarnya kelak. Saya percaya bahwa apa yang bisa mahasiswa lakukan sekarang adalah tonggak bagi masa depan yang lebih baik.
Setiap insan tak pernah berhenti belajar, setiap insan adalah pelajar.
ntu bneran terjadi gx??